“Berapa jumlah keluarga miskin (gakin) di wilayah kerja anda?”, tanya Pak Rusdi, seorang kepala puskesmas, pada rekan seperjuangannya yang juga kepala puskesmas, Pak Hamid.
“9.427 jiwa. Atau kurang lebih 29% dari jumlah total penduduk sebanyak 32.129 jiwa. Tidak kurang dari 200 orang diantaranya adalah bayi-bayi gakin.
“Ngomong-ngomong, bagaimana nasib dasomas (dana sosial masyarakat) di wilayah kerja anda saat ini?”, tanya Pak Rusdi kembali.
“Lumayan berjalan, meski berjalan di tempat. Sekitar 1 juta rupiah bisa terkumpul perbulan perdesa dari sumbangan partisipasi sebesar seribu rupiah perkepala keluarga. Dari jumlah tersebut hampir seluruhnya dikeluarkan lagi untuk beberapa kepentingan. Antara lain: uang duka Rp. 200.000,- untuk keluarga yang menghadapi musibah kematian; dua ratus ribu untuk ibu yang melahirkan; dan seratus ribu rupiah untuk bantuan transportasi bagi keluarga/seseorang yang dirujuk ke rumah sakit. Selama ini dasomas terkumpul dalam jumlah yang hampir sama banyak dengan yang dikeluarkan lagi untuk kepentingan-kepentingan seperti di atas. Banyak sih sebenarnya yang masih perlu dibiayai, khususnya untuk warga yang tergolong gakin, namun kekuatan dasomas saat ini tampaknya belum bisa diperbesar jumlahnya”, demikian papar Pak Hamid.
“Lho, mengapa!?...”, sambung Pak Rusdi penasaran.
“Biasa, alasan-alasan klasik”, jawab Pak Hamid singkat.
“Oke, saya punya konsep”, kata Pak Rusdi kepada Pak Hamid, “yang menurut hemat saya konsep ini sangat realistis untuk mengembangkan dasomas”.
“Penduduk di wilayah kerja saya”, lanjut Pak Rusdi, “berjumlah 32.129 jiwa, yang tersebar merata di 8 desa. Fakta menunjukkan, tidak kurang dari 70% penduduk tergolong sebagai perokok aktif. Ini berarti ada 22.490 jiwa yang termasuk perokok aktif di wilayah kerja saya. Sebagai perokok aktif, tentu saja mereka aktif mengeluarkan dana untuk membeli rokok”.
“Perokok yang paling ringan”, masih menurut Pak Rusdi, “rata-rata menghabiskan 30 batang rokok perbulan, atau 1 batang rokok perhari. Jika dalam satu bulan (30 hari), setiap perokok mengurangi 1 batang rokok saja, lalu nilai nominal dari 1 batang rokok ini dialihkan untuk partisipasi ke dasomas, maka potensi dana yang bisa terkumpul dari 22.490 perokok tadi adalah ±16 juta rupiah, dengan asumsi harga 1 batang rokok ±700 perak”.
“Kalau langkah di atas ditradisikan setiap bulan”, jelas Pak Rusdi, “maka dalam satu tahun, potensi dasomas menjadi ±189 juta rupiah. Angka yang sangat fantastis ini baru dari “pengorbanan” 1 batang rokok saja perbulan dari para perokok. Dan, para perokok yang dalam satu bulan terbiasa menghabiskan 100 batang rokok umpamanya, jika kemudian mereka harus mengonsumsi 99 batang, karena yang 1 batang dikonversi atau dialihkan nilai nominalnya untuk partisipasi ke dasomas misalnya, maka apalah arti pengurangan sekecil itu?!”, tantang Pak Rusdi.
“Subhanallah, dengan filosofi 1 batang rokok saja, puskesmas/kecamatan anda bisa menjamin suplai nutrisi bagi balita-balita gakin, dong ”, komentar Pak Hamid.
“Ya iyalah, mereka tidak boleh mengalami kekurangan gizi di masa-masa emas pertumbuhan sel-sel otak mereka”, jawab Pak Rusdi mantap.
“Andaikan kemiskinan adalah takdir mereka”, lanjut Pak Rusdi, “sementara pada saat yang sama takdir kekayaan ada pada kelompok warga lainnya, maka sebelum bumi yang ringkih ini digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat, lalu planet ini memuntahkan seluruh isinya, di mana pada saat itu manusia bagaikan anai-anai yang beterbangan, gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan, maka saatnyalah sekarang ini mengelola takdir kemiskinan vis a vis kekayaan itu menjadi sebuah simpul jalinan sekaligus jaminan sosial yang tidak mengundang murka Tuhan. Dan, ………. “. (Bersambung).
1 komentar:
pengennya sich diceritain langsung.
klo baca.
gimana gthu.
Posting Komentar
Saudaraku, silahkan meninggalkan komentar, tentu saja ini semua dalam rangka semakin meningkatkan kualitas pergulatan kita (atau saya) dalam menghimpun makna-makna yang berserakan di mana-mana.